--------------------

Rabu, 24 Oktober 2012

Idul Adha

Idul Adha dan Kepedulian

Kamis, 25 Oktober 2012

HARI INI, saat seluruh umat Islam di Tanah Air mempersiapkan diri merayakan Idul Adha 1433 H atau 2012 M, di Padang Arafah (Arab Saudi) jutaan umat melakukan wukuf, yang merupakan kegiatan utama dalam ibadah haji. Idul Adha merupakan waktu berharga bagi umat, baik yang sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak. Pahala yang dijanjikan Allah Yang Maha Kuasa sangat besar.
Di Padang Arafah, umat dari berbagai belahan dunia melaksanakan wukuf yang merupakan inti ibadah haji. Ibadah berupa berdiam diri selama sehari sambil berdoa di padang luas, di bagian timur luar kota Mekah, pada tanggal 9 Dzulhijjah penanggalan Hijriah tersebut, merupakan keharusan. Jika tidak, maka ibadah haji seseorang tidak sah.
Wukuf di Arafah cerminan puncak penyempurnaan haji, sebab di Arafah itulah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan khutbah wada atau khutbah perpisahan. Tidak lama setelah menyampaikan khutbah di Arafah, Nabi Muhammad SAW pun wafat.
Tidak hanya umat yang menunaikan ibadah haji yang diberi ganjaran pahala berlimpah oleh Allah Maha Penyayang, tetapi yang tidak sedang melaksanakannya juga bisa berharap mendapat pahala yang tak terhingga. Puasa Arafah, yang dilaksanakan hari ini bersamaan dengan wukufnya umat di Padang Arafah, merupakan kesempatan bagi yang tidak sedang berhaji meraih pahala amat besar. Shalat Idul Adha, pada Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijah 1433 yang bersamaan dengan Jumat (26/10) besok merupakan peluang besar pula. Apalagi jika diikuti dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.
Melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu dan ibadah Idul Adha bagi umat yang sedang tidak menunaikan ibadah haji sama-sama penuh makna, sama-sama bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bagi yang sedang menunaikan haji, ritual berupa wukuf, tawaf, sa'i, tahallul, melontar jumrah, serta ritual lain, bukan saja untuk mengingatkan umat pada perjuangan Nabi Ibrahim As menjalankan perintah Allah-sampai darah dagingnya pun, Ismail As, rela dikorbankan-tetapi juga untuk melatih diri umat dalam menghargai sesama.
Umat yang sedang menunaikan ibadah haji dilatih menahan diri, bersikap sabar, ikhlas dan peduli antara sesama. Ingat seseorang haji baru dianggap mabrur apabila setelah menunaikan haji berubah lebih baik. Kepedulian sosial sangat berperan dalam ibadah ini. Begitu juga bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, keputusan menyembelih hewan kurban selain memenuhi kewajiban sebagai umat Islam, juga menunjukkan rasa sosial.
Kurban adalah kesediaan berbagi. Berkurban juga bisa diartikan berusaha "membunuh" sifat-sifat kebinatangan seseorang. Dengan berkurban selain menunjukkan sifat kepatuhan atas perintah Allah Maha Besar, juga membuktikan kepedulian untuk berbagi terhadap yang tidak mampu. Makin mampu seseorang dalam hal ekonomi, harusnya makin tinggi kepeduliannya untuk berbagi. Jika kesediaan berbagi dianut semua umat, dipastikan tidak ada lagi rakyat yang kelaparan di Nusantara ini.***